Resistensi terhadap insulin, penyebab utama diabetes tipe-2

Resistensi insulin menjadi faktor tunggal yang memicu diabetes tipe-2. Kondisi sel yang kebal terhadap insulin menyebabkan  kadar gula daarah menjadi tinggi. Ada tiga faktor yang menyebabkan glukosa gagal masuk ke dalam sel sebagai berikut :

1.  Insulin yang diproduksi oleh sel beta pankreas cacat.
2.  Jumlah reseptor pada sel jauh lebih rendah daripada kondisi normal.
3.  Insulin tidak dapat melekatkan dirinya pada reseptor.

Berbeda dengan diabetes tipe-1 yang mengalami  autoimun karena faktor genetic, penderita diabetes tipe-2 tidak demikian. Resistensi insulin bukan suatu penyakit genetis atau menurun, meskipun individu yang mengalami resistensi insulin memiliki gen khusus yang membuatnya menjadi kebal terhadap insulin.

Para ahli sepakat bahwa resistensi insulin yang disebutkan pola hidup (life style) yang dijalani oleh individu yang bersangkutan, terutama pola diet yang tidak sehat. Hal ini menjadi faktor utama yang menjadikan seseorang resisten terhadap insulin.

banner-panduan-diabetes

Pola diet modern yang tidak sehat patut disalahkan sebagai penyebab terjadinya resistensi
insulin. Diet yang dominan karbohidrat olahan dan miskin nutrisi seperti kebisaaan masyarakat modern menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya resistensi insulin. Diet yang jauh dari standart hidup sehat tersebut jika berlangsung terus menerus pada akhirnya menyebabkan sel “sakit”. Sel yang lemah tersebut akhirnya tidak peka lagi terhadap insulin dan gula.

Persoalan mendasara yang menyebabkan resistensi insulin adalah konsumsi karbohidrat tidak sehat (gula dan tepung) yang dominan dalam diet modern. Gula merupakan sumber persoalan yang menyebabkan seorang menderita diabetes  tipe-2. Konsumsi gula  secara berlebihan menyebabkan sel tidak berdaya untuk memprosesnya menjadi energi dan akhirnya menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Persoalan lain timbul karena karbohidrat tidak sehat yang
Lanjutkan membaca “Resistensi terhadap insulin, penyebab utama diabetes tipe-2”

Gejala pra-diabetes

Untuk mengetahui apakah anda sudah termasuk dalam kelompok penderita pra-diabetes.
Anda perlu mengenali gejala-gejala. Berikut beberapa gejala-gejala pra-diabetes.

–  Mengidam makanan manis dan makanan yang banyak mengandung tepung
–  Merasa puas setelah mengonsumsi makanan manis dan bertepung. Namun, beberapa saat kemudian perasaan menjadi uring uringan.
–  Mengalami keletihan dan mengantuk setelah makan
–  Sulit berkonsentrasi
–  Mudah mengalami penambahan bobot badan dan sulit untuk menurunkannya.
–  Merasa bad mood jika tidak mengemil
–  Kadar gula puasa lebih dari 100 mg/dL.

banner-panduan-diabetes

Bagaimana diabetes dapat berkembang ?

Diabetes tipe-2 bisanya dialami oleh individu yang berusia di atas 30 tahun. Namun kini
banyak individu yang masih belia mengalami penyakit ini. Jika dilutes untuk memastikan
diabetes tipe-2 dilakukan pada usia 30 tahun keatas, kini deteksi dini diabetes tipe-2 harus
dilakukan pada individu muda yang menunjukkan geala terkait dengan resistensi insulin.
Jika saat ini diabetes tipe-2 banyak dialami oleh kaum muda, penyebab utamanya adalah pola diet dan gaya hidup tidak sehat yang selam ini dilakukan.

banner-panduan-diabetes

Gaya hidup terutama pola hidup tidak sehat mendorong ketidakpekaan sel terhadap insulin  sehingga keseimbangan gula darah terganggu. Peningkatan kadar glukosa yang mereka alami sehingga akhirnya layak disebut sebagai penderita diabetes tipe-2merupakan dampak buruk akibat resistensi insulin yang dialami. Proses terjadinya diabetes tipe-2 tidak terjadi seketika, tetapi berlangsung setahap demi setahap setelah resistensi insulin berkembang parah.

Diabetes tipe-2 juga berpotensi besar terjadi pada para wanita yang saat mengandung mengalami diabetes. Jika saat mengandung mereka terdeteksi sebagai penderita diabetes, mereka termasuk ke dalam penderita diabetes gestational. Wanita yang saat mengandung mengalami diabetes gestational berpeluang untuk menjadi penderita diabetes pada masa yang akan dating. Sekitar 40% wanita yang mengalami diabetes gestational akan menjadi penderita diabetes tipe-2 dalam kurun waktu 4 tahun setelah masa persalinan.
“Diabetes melitus tipe-2 dapat terjadi pada kaum muda dengan gaya hidup tidak sehat dan wanita penderita diabetes gestational.”
Lanjutkan membaca “Bagaimana diabetes dapat berkembang ?”

Semua penyakit kronis dikarenakan oleh karena miskomunikasi pesan di dalam dan di antara sel.

Semua penyakit kronis terjadi oleh karena adanya miskomunikasi pesan di dalam dan di antara sel.  Tentu saja diabetes merupakan penyakit miskomunikasi pada insulin dan mengenal peran sebenarnya dari insulin bagi tubuh akan membantu kita untuk bisa menggali lebih dalam lagi akar permasalahan diabetes dan penyakit kronis lainnya.

Insulin juga belum tentu merupakan hormon paling utama dalam diabetes atau penyakit kronis lainnya.  Penghormatan paling utama jatuh pada leptin. Nampak sepertinya hormone leptin secara meluas bertanggung jawab terhadap keakuratan signal insulin dan  menentukan apakah seseorang bakal kebal insulin (insulin resistant / diabetes tipe 2) atau tidak.

Leptin, hormon yang baru-baru ini ditemukan diproduksi dari lemak, berfungsi member informasi  kepada tubuh dan otak tentang berapa banyak energi  yang dimiliki, apakah perlu tambahan lagi  (melalui rasa lapar) atau apakah perlu menghilangkan beberapa (stop rasa lapar), dan yang penting juga memberi informasi akan apa yang harus dilakukan dengan energi yang telah dimiliki (diproduksi kembali, meregulasi perbaikan sel atau tidak).

Penelitian penting baru-baru ini mengungkapkan 2 organ tubuh paling penting yang akan menentukan apakah seseorang menjadi diabetes (tipe 2) atau tidak adalah organ hati dan otak, dan itu pun bergantung dari kedua organ ini dalam “mendengar “ pesan dari leptin.

Leptin sangat mempengaruhi (jika tidak mengendalikan) fungsi dari hypothalamus dalam otak kita, termasuk:

• Reproduksi,
• Fungsi Thyroid,
• Fungsi Adrenal dan,
• Sistem syaraf simpatik.

Lanjutkan membaca “Semua penyakit kronis dikarenakan oleh karena miskomunikasi pesan di dalam dan di antara sel.”

Diabetes bukanlah Penyakit Gula Darah

DIABETES ADALAH PENYAKIT HORMONAL

Pernyataan ini dipublikasikan oleh dr. Ron Rosedale, MD yang sangat kontroversial, bertentangan  dengan apa yang para dokter konvensional percaya dan praktekkan. Namun pengetahuan yang  kontroversial ini telah berhasil menyelamatkan banyak penderita diabetes karena ini bukan sekedar  teori tapi adalah kebenaran.

Diabetes bukanlah penyakit gula darah, tapi merupakan penyakit insulin dan mungkin lebih penting lagi yaitu penyakit signal leptin. Dan ketika konsep ini mulai diketahui di komunitas medis, artikel-artikel seperti ini secara otomatis pasti akan terus dipublikasikan sehingga terungkaplah kekurangan pengobatan medis konvensional dalam mengatasi penyakit-penyakit kronis seperti misalnya diabetes dan penyakit jantung, serta kesalahan mereka tentang nutrisi. Ciri khas dari perawatan konvensional adalah mengatasi gejala, dalam kasus ini berarti naiknya kadar gula darah dan bukannya fokus kepada penyebabnya.

banner-panduan-diabetes

Gejala merupakan cara alam mengajarkan tubuh kita bagaimana caranya mengatasi suatu penyakit. Sebagai contoh, pilek adalah gejala yang dirancang untuk membersihkan hidung dan sinus dari virus dan bakteri ketika seseorang sedang “flu”. Minum decongestant akan menghalangi mekanisme tubuh kita dalam mengatasi infeksi tersebut dan justru dengan demikian akan memperpanjang infeksi.

Sama juga dengan perawatan yang berfokus semata-mata hanya untuk mengurangi kadar gula bagi diabetes dengan cara meningkatkan insulin, akan dapat memperparah diabetes itu sendiri dibandingkan jika kita mengobati masalah sesungguhnya, yaitu “miskomunikasi metabolik”. Penanganan seperti ini sama saja dengan membawa pasien ke dalam lingkaran setan. Naiknya level insulin berhubungan dan bahkan menyebabkan:

• penyakit jantung,
• peripheral vascular,
• stroke,
• tekanan darah tinggi,
• kanker,
• kegemukan, dan
• masih banyak penyakit lainnya.

Sejak kebanyakan perawatan untuk diabetes menggunakan obat-obatan yang menaikkan insulin atau menyuntikkan insulin, hasilnya pun menjadi tragis, dimana perawatan medis konvensional malah menimbulkan beberapa efek samping dan memperpendek usia pasien.

Lanjutkan membaca “Diabetes bukanlah Penyakit Gula Darah”

Memahami Gula Darah

Karbohidrat yang kita konsumsi akhirnya dipecah menjadi glukosa. Glukosa merupakan sumber energi bagi tubuh. Selain glukosa, ada sumber energi lain yaitu glikogen (bentuk glukosa yang tersimpan di hati), asam amino (hasil pemecahan protein), lemak dan keton (yang dihasilkan dari pemecahan lemak yang di simpan di jaringan penyimpan). Banyak sedikitnya glukosa di dalam darah dinyatakan dengan level gula darah.

Level gula dalam darah sangat ditentukan oleh konsumsi gula. Jika pasokan gula kurang, maka level gula darah akan rendah. Kondisi ini bisaannya ditandai dengan tubuh yang lemas. Level gula darah yang rendah akan merangsang neurotransmiter menyampaikan sinyal lapar. Apabila tidak ada pasokan gula, maka hati akan melepas gula simpanan (glikogen) sebagai sumber energi.

banner-panduan-diabetes

Level gula puasa (saat bangun tidur) berkisar  anatara 65-120 mg/dL. Lever gula yang ideal adalah 80-100 mg/dL. Selanjutnya, gula darah akan meningkat beberapa saat setelah makan. Kadar gula setelah makan (postprandial) akan menciptakan kurva yang menunjukkan level gula bekisar 65-139 mg/dL. Diabetes tipe-2 ditandai dengan kadar gula puasa dan kadar gula setelah makan yang sangat tinggi.

Hormon Yang Mengatur Gula.
Glukosa dalam darah akan berguna jika telah diubah menjadi energi. Untuk mengubahnya diperlukan insulin. Insulin adalah hormon metabolik utama yang bertugas menyalurkan glukosa ke dalam sel. Hormon insulin diproduksi oleh sel beta yang ada di pankreas, insulin berusaha melekatkan diri pada reseptor-reseptor yang  ada di dinding sel untuk menyalurkan glukosa ke dalam sel.
Lanjutkan membaca “Memahami Gula Darah”